Selasa, 28 Desember 2010

NATAL PAROKIKU DAMAI

Hari Natal dirayakan setiap tahun oleh umat Kristiani. Natal diperingati sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, Sang Juru Selamat manusia. Kristus yang lahir di kota Betlehem sampai saat ini masih dikenang oleh para pengikut-Nya.

Malam ini aku merayakan Natal di gereja paroki. Gedung gereja yang bernuansa lokal Bali telah dihiasi dengan sebuah kandang natal dan hiasan gebogan  serta pemasangan ider-ider dan saput adegan yang semuanya mencerminkan budaya Bali. Pakaian adat Bali yang dikenakan oleh umat dan anggota koor menambah pula kekentalan nuansa pulau Dewata ini. Ciri khas Bali sangat terpelihara di paroki kami.

Natal memberi daya tarik tersendiri kepada umat. Hal ini dapat kita lihat dari membludaknya umat yang hadir. Gedung gereja tidak dapat menampung semuanya. Sehingga halaman gereja dan pastoran pun dipasangkan tenda agar umat dapat mengikuti perayaan Ekaristi malam Natal. Jumlah kursi yang disediakan ternyata juga kurang, sehingga banyak umat yang harus berdiri sepanjang perayaan Ekaristi.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh pastor Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka – Romo Paulus Payong, SVD dan konselebran oleh pastor pembantu Romo Agus Hutrin, SVD. Misa dimulai pada pukul 19.00 WITA. Diawali dengan perarakan Kanak-kanak Yesus dari ruang Doa (bekas gedung gereja pertama) menuju kandang natal yang terletak di sayap kiri gereja.

Bupati Badung A.A. Gde Agung, SH meninjau pelaksanaan misa malam natal. Didampingi para pejabat teras kabupaten Badung, Bupati Badung berkunjung ke paroki Tuka untuk melihat secara langsung pelaksanaan ibadat malam Natal. Ini suatu wujud perhatian pemerintah terutama pemerintah terhadap pemeluk agama yang ada di wilayahnya. Sesepuh paroki kami Bapak Alex Nyoman Gunarsa mendampingi kunjungan Bapak Bupati. Setelah berdialog singkat rombongan Bupati pun meninggalkan area gereja.

Jumat, 10 Desember 2010

TERMINAL UBUNG

Tahun 1984, ketika pertama kali kutinggalkan tanah Bali. Kudengar lagu Teluk Bayur dari pengeras suara yang ada di tower terminal bus Ubung. Masih terngiang lagu itu sampai sekarang. Kalau diubah sedikit syairnya akan menjadi seperti ini
Selamat tinggal Pulau Baliku yang tercinta,
ku kan pergi jauh ke negeri seberang,
ku kan mencari ilmu di negeri orang,
bekal hidup nanti di hari tua..

Kini telah sepuluh tahun sudah aku menapakan kembali kakiku di Pulau Bali tercinta ini. Wajah kusam terminal bus Ubung masih kulihat tidak jauh berubah daripada 26 tahun yang lalu. Hanya bus yang singgah dan menaikkan penumpang lebih banyak jumlahnya. Penumpang pun tak ketinggalan semakin bertambah.

Dulu tahun 1984 bus yang ke Jawa masih bisa dihitung dengan jari. Sekarang sudah tidak terhitung lagi. Hampir setiap saat kalau kita mau keluar Bali ada saja bus yang akan membawanya. Tampaknya Pulau Bali telah menjadi tempat mencari penghidupan kedua setelah kota Metropolitan Jakarta.

Demikian pesatnya perkembangan transportasi, nasib Terminal Bus Ubung tak secerah kocek yang diraup oleh pemerinta kota dari restribusi bus dan mikrolet serta penumpang. Ku kembali menemukan wajah lamannya yang penuh dengan kekumuhan.

Kamis, 09 Desember 2010

BAKUL JAMU GENDONG

Kerasnya kehidupan yang harus dijalani membuat orang harus bekerja. Pekerjaan yang dijalankan bermacam-macam. Dari pekerjaan kasar sampai pekerjaan yang hanya mengandalkan kekuatan pikiran saja. Dari pekerjaan yang berpenghasilan rendah sampai pekerjaan yang berpenghasilan tinggi. Intinya hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bagi masing-masing orang berbeda-beda.

Bakul jamu gendong. Sebuah pekerjaan yang dipandang sebelah mata oleh orang yang melihatnya. Profesi ini menjadi sumber penghasilan bagi seorang ibu yang berjualan jamu di terminal bus Ubung. Tak sengaja aku melihatnya menggelar dagangannya di antara para penumpang dan kru bus yang menunggu di bangsal terminal. Dentingan sendok dengan gelas berpadu oleh riuhnya obrolan para pembeli dan bakul jamu.

Segelas jamu yang diseduh, ditambah dengan dua telur ayam kampung telah memberikan penghasilan yang membuat sang ibu tersenyum. Senyum kebahagiaan yang terpancar dari bibirnya yang  bergincu tebal. Canda gurau dengan pembeli mengisyaratkan bahwa sang bakul jamu tak merasa risih berjualan.
Alangkah kuat mental bakul jamu itu, pikirku. Kalau aku menjadi seperti dia, belum tentu aku dapat melakukannya.

Senyum dan tawa bakul jamu membuatku menerawang jauh. Mataku tak berkedip memikirkan diri. Dengan lembaran ratusan ribu yang kuperoleh tiap aku gajian, kenapa aku belum bisa tersenyum lebar seperti bakul jamu tadi yang hanya memperoleh beberapa lembar uang ribuan? Di sela-sela ia berjualan datang lagi tukang kredit yang menagih hutang dan mencatat pembayaran hutang sang ibu. "Susah sekali ya mencari namaku?" Ibu itu berkelakar saat si tukang kredit mencari nama si bakul jamu dalam buku kreditnya tapi tak kunjung jua ketemu.

Aku berpikir lagi... Si bakul jamu punya hutang.. Tertawa lepas... Aku punya hutang kenapa tidak bisa tertawa lepas?

Selasa, 07 Desember 2010

MAKNA PENJOR DI BALI

MAKNA PENJOR (1)
Kalau lagi jalan-jalan di Bali saat ada perayaan agama, mungkin Anda akan sering menyaksikan parade indah penjor di depan rumah penduduk atau juga di jalanan yang Anda lewati.
Penjor biasanya dipasang 2 hari atau sehari sebelum pelaksanaan upacara seperti Galungan dan upacara yang di pura-pura desa.
Penjor dalam tradisi lokal diyakini sebagai perlambang Gunung, tempat yang tertinggi dan sebagai tempat bersemayam para dewa dan kekuatan suci.
Segala pala bungkah- pala gantung dan sesajen pada sanggah penjor, melambangkan persembahan terhadap Bhatara di Gunung Agung (Bhatara Giri Putri).
Seperti kita ketahui, Gunung adalah sumber dari kesuburan dan akhirnya ke kemakmuran.
  1. Hanya penjor yang menggunakan unsur lengkap (sanggah, padi, pala bungkah dan sebagainya) dapat dipergunakan dalam upacara keagamaan menurut fungsinya.
  2. Penjor untuk dekorasi (bukan Upacara keagamaan) tidak diperbolehkan mempergunakan unsur- unsur tersebut di atas, tetapi hanya menggunakan hiasan- hiasannya saja (bila dengan sampian hendaknya tanpa porosan).


MAKNA PENJOR (2)
[1] Penjor sama dengan penyejer bagi orang yang akan melakukan yadnya suci Mawidhi Widana. Kalau dalam zaman sekarang sama dengan bendera Merah Putih yang melambangkan kemerdekaan, merdeka dalam artian tidak ada lagi yang merintangi atau melarang untuk melaksanakan yadnya suci (kemerdekaan/kemenangan Dharma melawan Adharma). Bahan penjor dari bambu, yang melambangkan tingkah atau cara menuntun pelaksana, apa yang akan diunggulkan, itu yang dimuat/digantung di penjor. Bambu untuk penjor ujungnya tidak ada yang dipotong supaya tidak bermakna tiying tunggul karena kegunaan dan kekuatannya berkurang.

Dalam menancapkannya diharapkan batangnya lurus, ada ruas pada ujung bawah dan menancap ke tanah. Ini bermakna, dalam beryadnya atau dalam mengadakan suatu aktivitas mesti berdasarkan kemantapan (metu saking manah/pekayun) tur metulis ring lontar/buku, supaya tujuan yadnya tercapai.

Bambu penjor dibungkus ambu (daun enau muda) berwarna kuning, melambangkan keheningan kayun dan sampian melambangkan kesampaian kayun/tercapai tujuan dan kain putih melambangkan ketah (lumrah).

[2] Makna sanggah penjor. Sanggah yang di atasnya bundar merupakan perwujudan gunung. Gunung ika ngaran giri, giri ika ngaran griya untuk mendalami pengetahuan di bidang kewikuan. Sanggah yang di atasnya segi tiga melambangkan Tri Sakti/Tri Wisesa, lambang tiga keprabuan yaitu Brahma, Wisnu, Siwa.


Sumber : I Nyoman Wirta, Jl. Siulan, Perum Karya Samia Penatih I, Blok C 38 Denpasar, Balipost 27 Okt 2001

MAKNA PENJOR (3)
Umat Hindu dari jaman dahulu sampai sekarang bahkan sampai nanti dalam menghubungkan diri dengan Ida Sanghyang Widi Wasa memakai symbol-simbol. Dalam Agama Hindu simbol dikenal dengan kata niasa yaitu sebagai pengganti yang sebenarnya. Bukan agama saja yang memakai simbol, bangsa pun memakai simbol-simbol. Bentuk dan jénis simbol yang berbeda namun mempunyai fungsi yang sama.
Dalam upakara terdiri dari banyak macam material yang digunakan sebagai simbol yang penuh memiliki makna yang tinggi, dimana makna tersebut menyangkut isi alam (makrokosmos) dan isi permohonan manusia kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Untuk mencapai keseimbangan dari segala aspek kehidupan seperti Tri Hita Karana.
Masyarakat di Bali sudah tidak asing lagi dengan penjor. Masyarakat mengenal dua (2) jenis penjor, antara lain Penjor Sakral dan Penjor hiasan. Merupakan bagian dari upacara keagamaan, misalnya upacara galungan, piodalan di pura-pura. Sedangkan pepenjoran atau penjor hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dll. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll. Penjor sakral yang dipergunakan pada waktu hari raya Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan dll.
Definisi Penjor menurut I.B. Putu Sudarsana dimana Kata Penjor berasal dari kata “Penjor”, yang dapat diberikan arti sebagai, “Pengajum”, atau “Pengastawa”, kemudian kehilangan huruf sengau, “Ny” menjadilah kata benda sehingga menjadi kata, “Penyor” yang mengandung maksud dan pengertian, ”Sebagai Sarana Untuk Melaksanakan Pengastawa”.
Umat Hindu di Bali pada saat hari raya Galungan pada umumnya membuat penjor. Penjor Galungan ditancapkan pada Hari Selasa/Anggara wara/wuku Dungulan yang dikenal sebagai hari Penampahan Galungan yang bermakna tegaknya dharma. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh didepan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Bila rumah menghadap ke utara maka penjor ditancapkan pada sebelah timur pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Bahan penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa). Perlengkapan penjor Pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat), Pala Gantung (misalnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dll), Pala Wija (seperti jagung, padi dll), jajan, serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang dibuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit.
Tujuan pemasangan penjor adalah sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bakti dan berterima kasih kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Penjor juga sebagai tanda terima kasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Bambu tinggi melengkung adalah gambaran dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. Hiasan yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, padi, jajan dan kain adalah merupakan wakil-wakil dari seluruh tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan yang dikarunia oleh Hyang Widhi Wasa.
Penjor Galungan adalah penjor yang bersifat relegius, yaitu mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan, dan wajib dibuat lengkap dengan perlengkapan-perlengkapannya.
Dilihat dari segi bentuk penjor merupakan lambang Pertiwi dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananta bhoga. Selain itu juga, penjor merupakan simbol gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan. Hiasan-hiasan adalah merupakan bejenis-jenis daun seperti daun cemara, andong, paku pipid, pakis aji dll. Untuk buah-buahan mempergunakan padi, jagung, kelapa, ketela, pisang termasuk pala bungkah, pala wija dan pala gantung, serta dilengkapi dengan jajan, tebu dan uang.
Oleh karena itu, membuat sebuah penjor sehubungan dengan pelaksanaan upacara memerlukan persyaratan tertentu dalam arti tidak asal membuat saja, namun seharusnya penjor tersebut sesuai dengan ketentuan Sastra Agama, sehingga tidak berkesan hiasan saja. Sesungguhnya unsur-unsur penjor tersebut adalah merupakan symbol-simbol suci, sebagai landasan peng-aplikasian ajaran Weda, sehingga mencerminkan adanya nilai-nilai etika Agama. Unsur-unsur pada penjor merupakan simbol-simbol sebagai berikut:
- Kain putih yang terdapat pada penjor sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara.
- Bambu sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma.
- Kelapa sebagai simbol kekuatan Hyang Rudra.
- Janur sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa.
- Daun-daunan (plawa) sebagai simbol kekuatan Hyang Sangkara.
- Pala bungkah, pala gantung sebagai simbol kekuatan Hyang Wisnu.
- Tebu sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu.
- Sanggah Ardha Candra sebaga: simbol kekuatan Hyang Siwa.
- Upakara sebagai simbol kekuatan Hyang Sadha Siwa dan Parama Siwa.
Didalam Lontar “Tutur Dewi Tapini, Lamp. 26”, menyebutkan sebagai berikut :
“Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”, Sang Hyang Parama Siwa Nadha, Sang Hyang Iswara Maraga Martha Upaboga, Hyang Wisnu Meraga Sarwapala, Hyang Brahma Meraga Sarwa Sesanganan, Hyang Rudra Meraga Kelapa, Hyang Mahadewa Meraga Ruaning Gading, Hyang Sangkara Meraga Phalem, Hyang Sri Dewi Meraga Pari, Hyang Sambu Meraga Isepan, Hyang Mahesora Meraga Biting (IB. PT. Sudarsana, 61; 03)
WHD No. 478 Nopember 2006.
Dikutip dari www.parisada.org

Senin, 06 Desember 2010

MAKNA SUGIAN JAWA & SUGIAN BALI

6 Hari sebelum hari raya Galungan, umat Hindu di Bali khususnya merayakan hari penyucian yang dinamakan Sugian Jawa dan Sugian Bali. Sugian Jawa  mempunyai makna  penyucian alam  semesta (bhuana  agung), sedangkan  Sugian Bali  mempunyai makna  penyucian diri  sendiri (bhuana alit).

Sugian Jawa diperingati setiap hari Kamis dan Sugian Jawa setiap hari Jumat sebelum Galungan. Upacara ini merupakan rangkaian dari upacara besar umat Hindu, Galungan dan Kuningan. Beberapa upacara yang merupakan rangkaian adalah Terhitung dari  hari Sugian Jawa, Sugian Bali, jatuh tepat pada hari Sukra Wage, Wuku Sungsang, berlanjut menuju hari Penyekeban, Penyajajaan, Penampahan, Galungan, Umanis Galungan, Ulihan, Pamacekan Agung, Penampahan Kuningan, hingga perayaan hari raya Kuningan.

Ketidaksucian bhuana agung, tidak terlepas dari ulah manusia sebagai pemegang otoritas atas bhuana alit. Agar bhuwana agung ini menjadi suci kembali, maka bhuana alit harus dibuat suci terlebih dulu. Caranya dikembalikan kepada manusia sendiri. Kalau tidak mampu memaknai dengan cara upacara, dapat dilakukan dengan cara lain, karena Ida Sang Hyang Widhi Wasa telah mengisyaratkan, dengan cara apa pun asalkan menuju kepada-Nya, Beliau akan terima. Yang paling penting adalah memahami arti dari ”kesucian” itu sendiri. Kalau itu tidak dipahami, sama saja artinya pergi ke suatu tempat, yang alamatnya tidak jelas.

Dalam kitab Wedanta disebutkan, bahwa manusia terdiri dari badan, manas (pikiran), budhi (kecerdasan) dan atman yang merupakan percikan dari Paraatman. Setiap makhluk hidup mempunyai atman yang sama. Yang membedakan di antara makhluk adalah adanya badan yang membungkusnya, budhi dan manas itu sendiri. Inilah yang bisa membuat manusia menjadi tidak suci. Kebodohan, nafsu dan keinginan-keinginan kotor telah membendung sinar suci atman, sehingga tidak mampu menembus keluar.

Apabila tabir-tabir kebodohan, nafsu dan keinginan kotor itu bisa disingkap, dengan menghilangkan atau menekan serendah mungkin, maka sinar-sinar suci atman akan mampu menembus keluar dari badan manusia.

HARI GALUNGAN DAN KUNINGAN

Makna Galungan dan Kuningan (1)   

Galungan adalah hari raya suci Hindu yang jatuh pada Buda Kliwon Dungulan berdasarkan hitungan waktu bertemu sapta wara dan panca wara. Umat Hindu dengan penuh rasa bhakti melaksanakan rangkaian hari raya suci Galungan dan Kuningan dengan ritual keagamaan. [ Oleh : I Nyoman Dayuh, (UNHI - Dps)]

Menurut lontar Purana Bali Dwipa disebutkan :

"Punang aci galungan ika ngawit bu, ka, dungulan sasih kacatur tanggal 25, isaka 804, bangun indra bhuwana ikang bali rajya".


Artinya:

"Perayaan hari raya suci Galungan pertama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka, keadaan pulau Bali bagaikan lndra Loka".
Mulai tahun saka inilah hari raya Galungan terus dilaksanakan, kemudian tiba-tiba Galungan berhenti dirayakan entah dasar apa pertimbangannya, itu terjadi pada tahun 1103 saka saat Raja Sri Eka Jaya memegang tampuk pemerintahan sampai dengan pemerintahan Raja Sri Dhanadi tahun 1126 saka Galungan tidak dirayakan. Dan akhirnya Galungan baru dirayakan kembali pada saat Raja Sri Jaya Kasunu memerintah, merasa heran kenapa raja dan para pejabat yang memerintah sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui sebabnya beliau bersemedi dan mendapatkan pawisik dari Dewi Durgha menjelaskan pada raja, leluhumya selalu berumur pendek karena tidak merayakan Galungan, oleh karena itu Dewi Durgha meminta kembali agar Galungan dirayakan kembali sesuai dengan tradisi yang berlaku dan memasang penjor.
Macam - Macam Galungan

A. Galungan

Di dalam lontar Sundarigama menyebutkan pada Buda Kliwon wuku Dungulan disebut hari raya Galungan.

B. Galungan Nadi

Apabila Galungan jatuh pada bulan Purnama disebut Galungan Nadi, umat Hindu melaksanakan tingkatan upacara yang lebih utama. Berdasarkan Lontar Purana Bali Dwipa bahwa Galungan jatuh pada sasih kapat (kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka Bali bagaikan lndra Loka ini menandakan betapa meriahnya dan sucinya hari raya itu.

C. Galungan Naramangsa.

Dalam Lontar Sanghyang Aji Swamandala mengenai Galungan Naramangsa disebutkan apabila Galungan jatuh pada Tilem Kapitu dan sasih Kasanga rah 9, tengek 9, tidak dibenarkan merayakan hari raya Galungan dan menghaturkan sesajen berisi tumpeng seyogyanya umat mengadakan caru berisi nasi cacahan dicampur ubi keladi, bila melanggar akan diserbu oleh Balagadabah.


Makna Galungan dan Kuningan (2)  

Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan

Persiapan perayan hari raya Galungan dimulai sejak Tumpek Wariga disebut juga Tumpek Bubuh, pada hari ini umat memohon kehadapan Sanghyang Sangkara, Dewanya tumbuh tumbuhan agar Beliau menganugrahkan supaya hasil pertanian meningkat. Setelah itu wrespati Sungsang adalah hari Sugihan Jawa merupakan pensucian bhuwana agung dilaksanakan dengan menghaturkan pesucian mererebu di Merajan, pekarangan, rumah serta menyucikan alat-alat untuk hari raya Galungan. Besoknya Sukra Kliwon Sungsang disebut hari Sugihan Bali, pada hari ini kita melaksanakan penyucian bhuwana alit, mengheningkan pikiran agar hening, heneng dan metirta gocara. Selanjutnya Redite Paing Dungulan disebut penyekeban.

Pada hari ini adalah hari turunnya Sang Kala Tiga Wisesa, maka pada hari ini para wiku dan widnyana meningkatkan pengendalian diri (anyekung adnyana). Besoknya Soma Pon Dungulan disebut penyajaan pada hari ini tetap menguji keteguhan sebagai bukti kesungguhan melakukan peningkatan kesucian diri seperti yoga semadi. Selanjutnya Anggara Wage Dungulan disebut penampahan melakukan bhuta yadnya ring catur pate atau lebuh di halaman rumah, agar tidak diganggu Sang Kala Tiga Wisesa. Besoknya Buda Kliwon Dungulan disebut Hari Raya Galungan umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. Wrespati Umanis Dungulan disebut Manis Galungan, umat saling kunjung-mengunjungi dan maaf-memaafkan. Selanjutnya Saniscara Pon Dungulan disebut pemaridan guru pada hari ini umat melaksanakan tirta gocara, Redite Wage Kuningan disebut ulihan kembalinya Dewa dan Pitara kekahyangan.

Selanjutnya Soma Kliwon Kuningan disebut Pemacekan Agung Dewa beserta pengiringnya kembali dan sampai ketempat masing-masing. Sukra Wage Kuningan disebut Penampahan Kuningan adalah persiapan untuk menyambut hari Raya Kuningan. Besoknya Saniscara Kliwon Kuningan hari Raya Kuningan, pada hari ini umat Hindu memuja Tuhan dengan segala manifestasinya. Upacara menghaturkan saji hendaknya.dilaksanakan jangan sampai lewat tengah hari, mengapa ? Karena pada tengah hari para Dewata diceritakan kembali ke swarga. Kemudian yang paling akhir dari rangkaian hari raya Galungan yaitu Buda Kliwon Pahang disebut pegat uwakan akhir dari pada melakukan peberatan Galungan sebagai pewarah Dewi Durga kepada Sri Jaya Kasunu ditandai dengan mencabut penjor kemudian dibakar, abunya dimasukkan kedalam bungkak gading ditanam di pekarangan.
Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan

Dharma dan Adharma Pada hari raya suci Galungan dan Kuningan umat Hindu secara ritual dan spiritual melaksanakannya dengan suasana hati yang damai. Pada hakekatnya hari raya suci Galungan dan Kuningan yang telah mengumandang di masyarakat adalah kemenangan dharma melawan adharma. Artinya dalam konteks tersebut kita hendaknya mampu instrospeksi diri siapa sesungguhnya jati diri kita, manusia yang dikatakan dewa ya, manusa ya, bhuta ya itu akan selalu ada dalam dirinya. Bagaimana cara menemukan hakekat dirinya yang sejati?, "matutur ikang atma ri jatinya" (Sanghyang Atma sadar akan jati dirinya).

Hal ini hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran yang sejati, seperti halnya hari Raya Galungan dan Kuningan dari hari pra hari H, hari H dan pasca hari H manusia bertahan dan tetap teguh dengan kesucian hati digoda oleh Sang Kala Tiga Wisesa, musuh dalam dirinya, di dalam upaya menegakkan dharma didalam dirinya maupun diluar dirinya. Sifat-sifat adharma (bhuta) didalam dirinya dan diluar dirinya disomya agar menjadi dharma (Dewa), sehingga dunia ini menjadi seimbang (jagadhita). Dharma dan adharma, itu dua kenyataan yang berbeda (rwa bhineda) yang selalu ada didunia, tapi hendaknyalah itu diseimbangkan sehingga evolusi didunia bisa berjalan.

Kemenangan dharma atas adharma yang telah dirayakan setiap Galungan dan Kuningan hendaknyalah diserap dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dharma tidaklah hanya diwacanakan tapi dilaksanakan, dalam kitab Sarasamuccaya (Sloka 43) disebutkan keutamaan dharma bagi orang yang melaksanakannya yaitu :

"Kuneng sang hyang dharma, mahas midering sahana, ndatan umaku sira, tan hanenakunira, tan sapa juga si lawanikang naha-nahan, tatan pahi lawan anak ning stri lanji, ikang tankinawruhan bapanya, rupaning tan hana umaku yanak, tan hana inakunya bapa, ri wetnyan durlaba ikang wenang mulahakena dharma kalinganika".

Artinya:
Adapun dharma itu, menyelusup dan mengelilingi seluruh yang ada, tidak ada yang mengakui, pun tidak ada yang diakuinya, serta tidak ada yang menegur atau terikat dengan sesuatu apapun, tidak ada bedanya dengan anak seorang perempuan tuna susila, yang tidak dikenal siapa bapaknya, rupa-rupanya tidak ada yang mengakui anak akan dia, pun tidak ada yang diakui bapa olehnya, perumpamaan ini diambil sebab sesungguhnya sangat sukar untuk dapat mengetahui dan melaksanakan dharma itu.

Di samping itu pula dharma sangatlah utama dan rahasia, hendaknyalah ia dicari dengan ketulusan hati secara terus-menerus. Sarasamuccaya (sloka 564) menyebutkan :

"Lawan ta waneh, atyanta ring gahana keta sanghyang dharma ngaranira, paramasuksma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndan pinet juga sire de sang pandita, kelan upasama pagwan kotsahan".

Artinya:

Lagi pula terlampau amat mulia dharma itu, amat rahasia pula, tidak bedanya dengan jejak ikan didalam air, namun dituntut juga oleh sang pandita dengan ketenangan, kesabaran, keteguhan hati terus diusahakan.

Demikianlah keutamaan dharma hendaknyalah diketahui, dipahami kemudian dilaksanakan sehingga menemukan siapa sesungguhnya jati diri kita. (WHD No. 436 Juni 2003).

dikutip dari : http://www.parisada.org